JawaPos.comDer trainer asal Jerman mendominasi semifinal Liga Champions 2019–2020. Total, ada tiga pelatih. Selain Hans-Dieter Flick yang menangani Bayern Muenchen, ada Julian Nagelsmann sebagai der trainer RB Leipzig (RBL) dan Thomas Tuchel di Paris Saint-Germain (PSG).

Dua nama terakhir bakal beradu taktik dalam semifinal di Estadio da Luz dini hari nanti (siaran langsung SCTV/Champions TV 1 pukul 02.00 WIB).

Misi mereka serupa. Membawa klub masing-masing ke final Liga Champions untuk kali pertama sekaligus menjadi pengalaman pertama dalam karir keduanya.

Di atas kertas, Tuchel unggul dalam jam terbang ketimbang Nagelsmann. Tuchel yang berusia 13 tahun lebih tua alias 46 tahun sudah merasakan Liga Champions bersama Borussia Dortmund pada 2016–2017 dan lolos sampai perempat final.

Sempat jobless pada 2017–2018, Tuchel kembali merasakan Liga Champions bersama PSG. Mencapai empat besar musim ini tentu lebih baik ketimbang musim lalu yang hanya sampai 16 besar.

Musim ini, Tuchel juga tidak terkalahkan (menang 3-0 dan seri 2-2) saat beradu taktik dengan Zinedine Zidane (Real Madrid) di fase grup.

Bukan hanya itu. Tuchel juga dua kali mengalahkan Fatih Terim, pelatih kawakan asal Turki yang memoles Galatasaray di fase grup.

The Professor –julukan Tuchel– juga meredam kejutan dari Gian Piero Gasperini (Atalanta BC) dalam perempat final. Tapi, skuad mumpuni PSG diklaim turut membantu kesuksesan Tuchel.

Bandingkan dengan Nagelsmann yang di skuad RBL nyaris tanpa pemain bintang. Pelatih berjuluk Baby Mourinho itu pun sukses beradu taktik dengan Jose Mourinho (Tottenham Hotspur) maupun Diego Simeone (Atletico Madrid) di fase knockout.

Dua pelatih pengusung pragmatisme yang punya reputasi sulit dilumpuhkan strateginya.

Bagi Nagelsmann, Tuchel adalah mentornya. Tuchel-lah yang menjadikan Nagelsmann sebagai pemandu bakat di klub asuhan pertamanya, FC Augsburg II, pada 2007–2008.

Baca:  Blunder di Manchester United, Jadi Man of the Match di Tim Nasional

”Dia (Tuchel, Red) adalah pelatih top dan memiliki strategi top pula. Aku juga punya statistik (pertemuan yang, Red) buruk (menghadapinya),” ucap Nagelsmann kepada Goal dan DAZN.

Gelandang RB Leipzig Marcel Sabitzer diprediksi memainkan peranan penting dini hari nanti. (AP Photo).

Ketika masih menangani TSG 1899 Hoffenheim, Nagelsmann kalah dua kali dan sekali seri menghadapi Tuchel di BVB, sebutan Borussia Dortmund.

”Tapi, situasinya sudah berbeda saat ini. Saya tidak harus memiliki taktik lebih baik karena saya hanya ingin menang meski dengan taktik buruk,” imbuh Nagelsmann yang memulai karir kepelatihannya bersama TSG 1899 Hoffenheim (2016 –2019) itu.

Nagelsmann memang sosok pelatih yang berani mengaplikasikan banyak alternatif formasi. Musim ini, delapan varian skema dimainkan RBL. Hal itulah yang membuat lawan RBL kerap kedodoran. Khususnya mereka yang lamban dalam meraba kelemahan klub berjuluk Die Roten Bullen tersebut.

Nagelsmann telah membuktikan bahwa kehilangan striker Timo Werner (yang pindah ke Chelsea) tidak menghalangi RBL untuk menyingkirkan Atletico Madrid 2-1 dalam perempat final (14/8).

Hanya, Tuchel tentu sudah belajar dari laga itu. Tuchel beruntung karena Kylian Mbappe yang menjadi pengganti dalam perempat final kontra Atalanta bisa dimainkan sejak menit awal.

Begitu pula Angel Di Maria yang sudah bebas dari akumulasi kartu. Kuartet Di Maria-Neymar Jr-Mbappe-Mauro Icardi jelas ancaman besar bagi pertahanan RBL.

Memiliki kuartet yang musim ini berkontribusi 135 gol (gol maupun assist) tidak disia-siakan oleh Tuchel. Dia disebut bakal mengusung skema 4-2-2-2. Di Maria dan Neymar jadi pemain yang fleksibel di belakang Mbappe-Icardi.

Kedua pemain bisa berbahaya, baik di sisi flank (winger-wide attacker) maupun di sentral permainan (gelandang serang-trequartista).

”Bisa memiliki mereka (Di Maria-Neymar-Mbappe-Icardi, Red) untuk laga sepenting ini (semifinal Liga Champions) adalah momentum bagus,” tutur Tuchel di laman resmi klub.