JawaPos.com – Semasa masih jadi pemain, Ole Gunnar Solskjaer dikenal sebagai pemain supersub Manchester United. Terutama saat tampil di level Eropa. Dia tiga kali jadi penentu victory United di Liga Champions. Termasuk paling fenomenal di final edisi 1998–1999 melawan Bayern Muenchen.

Namun, ketika menukangi United, Solskjaer malah tak memiliki pemain yang mempunyai karakter seperti dirinya. Termasuk saat The Red Devils –julukan United– tersingkir dari semifinal Liga Europa.

United kandas setelah dipecundangi Sevilla 1-2 di RheinEnergieStadion, Koeln, kemarin WIB (17/8). Satu-satunya gol United hanya datang dari titik putih lewat eksekusi Bruno Fernandes (9’).

Ke mana trio M-M-M, Anthony Martial, Marcus Rashford, dan Marcus Greenwood? Tiga bomber itu hanya mampu melepaskan 11 tembakan tapi nihil gol! Greenwood dan Rashford dengan empat tembakan, Martial dengan tiga tembakan.

’’Tak cukup hanya dengan menciptakan peluang tanpa gol,’’ keluh Fernandes sebagaimana dilansir laman resmi klub.

Fernandes memang lebih sering menciptakan peluang ketimbang trio M-M-M. Yakni, enam kali. Bomber Odion Ighalo yang baru dimasukkan pada injury time menit ketiga menggantikan Greenwood pun tak banyak menolong.

Ighalo hanya mampu melakukan tiga sentuhan bola tanpa sekali pun mengancam gawang Yassine Bounou, portero Sevilla. Dalam laman resmi UEFA, Solskjaer berkelit bahwa pengalaman pemainnya masih di bawah Jesus Navas dkk.

Terutama trio M-M-M yang rata-rata umurnya baru menginjak 21,3 tahun.

’’(Rata-rata umur pemain keseluruhan) Bahkan tiga tahun lebih muda ketimbang Sevilla,’’ ungkap Solskjaer. ’’Lihat malam ini (kemarin, Red). Aku rasa, jika kami bisa memanfaatkan setiap peluang, kami bisa memenanginya,’’ sambung pelatih yang musim ini gagal dalam tiga semifinal sekaligus itu.

Selain semifinal Liga Europa, Solskjaer gagal di semifinal Piala FA dan Piala Liga.

Baca:  Barcelona tidak serius, Wijnaldum menyerah

Meski, statistik Liga Europa masih mencatat United sebagai klub terproduktif dengan 25 gol. Jumlah tembakannya mencapai 200 kali. Namun, hanya 12,5 persen efektivitasnya. Bandingkan dengan FC Basel sebagai klub terproduktif kedua dengan 21 gol. Basel mengoleksinya dari cuma 138 kali tembakan. Atau mencapai 15,2 persen.

Upaya menemukan supersub di Liga Europa pun sulit. Ighalo, misalnya. Striker yang masih berstatus pinjaman dari klub Liga Super Tiongkok (CSL) Shanghai Greenland Shenhua itu macet keran golnya sejak fase knockout setelah restart Liga Europa.

Padahal, dia sempat menggila pada second leg 32 besar kontra Club Brugge (28/2) dengan satu gol. Lalu, satu gol dan satu assist pada first leg 16 besar lawan LASK (13/3).

Laman Manchester Evening News menyebut, United tidak mempunyai kedalaman skuad. Solskjaer pun mengakuinya. ’’Kami butuh memperkuat kedalaman skuad ini tentunya. Karena musim ini musim yang cukup panjang dan hanya beberapa pekan istirahat,’’ ujarnya.