JawaPos.com-Inter Milan sukses besar membantai Shakhtar Donetsk dengan skor 5-0 pada semifinal Liga Europa dini hari ini (18/8). Lautaro Martinez membawa Inter unggul 1-0 pada babak perama.

Pada babak kedua, Lautaro menceploskan satu gol lagi lewat sebuah tendangan melengkung cantik. Partner Lautaro di depan, Romelu Lukaku menambahkan dua gol.

Sedangkan satu gol Inter lainnya lahir dari tandukan Danilo D’Ambrosio.

Ini adalah lima hal yang bisa dipetik dari pertandingan tersebut berdasarkan analisis surat kabar Inggris The Independent.

Penguasaan Bola Rendah Tapi Efisien
Pada babak pertama, Inter membukukan ball possession cuma 33 persen. Itu adalah yang terendah bagi Inter musim ini.

Walau tidak banyak menguasi bola, Inter sejatinya sangat mengontrol pertandingan. Mulai dari mencetak gol hingga membuat Shakhtar cuma menciptakan satu tendangan ke arah gawang sepanjang pertandingan.

Ini menjadi bukti bahwa betapa efektif dan efisiennya pendekatan taktik yang dilakukan oleh pelatih Inter Antonio Conte.

Penyerang Inter Milan Romelu Lukaku berusaha mencetak gol ke gawang Shakhtar Donetsk yang dijaga Andrey Pyatov (Sascha Steinbach/POOL/AFP)

Inter Menunjukkan Cara Menang kepada Manchester United
Inter dan Manchester United saat ini sejatinya berada dalam titik yang sama. Dua tim besar yang berusaha kembali untuk meraih puncak.

Namun saat Inter melenggang dengan mulus ke final, United malah kandas di semifinal kemarin (17/8).

Dalam konteks ini, Inter berlari lebih cepat. Ironisnya, Nerazzurri diperkuat tiga mantan pemain United yakni Romelu Lukaku, Alexis Sanchez, dan Ashley Young. Mereka menjadi komponen sangat penting dalam perjalanan Inter menjadi runner-up Serie A dan menembus final Liga Europa musim ini.

Bek Shakhtar Donetsk Dodo (kiri) berduel dengan full back Inter Milan Ashley Young. (Lars Baron/POOL/AFP)

Lautaro Martinez Adalah Pemain Muda yang Penting
Dua gol yang dicetak Lautaro Martinez ke gawang Shakhtar membuktikan bahwa pemain Argentina ini adalah sosok yang sangat penting dalam starting XI Antonio Conte.

Baca:  Thiago Hengkang ke Liverpool, Bayern Berharap Alaba Tidak Ikut Pergi

Sepanjang musim ini, catatan gol Lautaro memang kalah dari Romelu Lukaku. Lautaro membukukan 21 gol. Sedangkan Lukaku 33 gol. Walau demikian, torehan itu tetap sangat impresif untuk pemain yang baru menginjak 22 tahun.

Dalam laga ini, Lautaro juga menunjukkan skill dan rasa percaya diri yang luar biasa. Gol keduanya, hasil tendangan jarak jauh yang melengkung, mencerminkan bahwa Lautaro punya kelas dan pantas menjadi buruan banyak klub besar Eropa termasuk Barcelona.

Jika Inter ingin meraih scudetto musim depan, pemain seperti Lautaro harusnya tetap dipertahankan.

Penyerang Inter Milan asal Argentina Lautaro Martinez merayakan gol keduanya ke gawang Shakhtar Donetsk. (Lars Baron/POOL/AFP)

Shakhtar Ternyata Terlalu Mudah Untuk Inter
Shakhtar adalah juara dalam empat musim terakhir di Liga Premier Ukraina. Mereka diprediksi akan sangat menyulitkan Inter.

Tetapi nyatanya, Shakhtar adalah lawan yang terlalu mudah ditaklukkan karena minim imajinasi dan terlalu takut mengambil risiko. Hasilnya, mereka cuma mampu mencetak satu tembakan ke arah gawang sepanjang pertandingan.

Pemain Shakhtar juga gampang kehilangan fokus dan konsentrasi. Buktinya, mereka sudah kebobolan empat gol dalam 25 menit.

Pemain Shakhtar Donetsk gagal mengantisipasi pergerakan full back Inter Danilo D’Ambrosio. (Lars Baron/POOL/AFP)

Final Menarik Sudah di Depan Mata
Kalau semata mengacu pada nama besar, Inter melawan Manchester United adalah final yang ideal. Namun, Sevilla adalah lawan yang tak kalah berkilau bagi Inter kalau berbicara dalam konteks Liga Europa.

Sevilla adalah raja Liga Europa. Mereka adalah tim dengan gelar terbanyak di kompetisi ini. Sebelumnya, mereka menembus final lima kali dan selalu juara. Pada musim 2014, 2015, 2016, Sevilla mencetak hat-trick gelar pada kompetisi ini.

Berlaga pada finalnya yang keenam Sabtu (22/8) dini hari WIB, Sevilla bakal menjadi lawan yang sangat tangguh bagi Inter.

Pertarungan tersebut akan menarik karena menjadi pertemuan dua kultur sepak bola kuat yang saling bertolak belakang.

Sevilla merayakan keberhasilan mereka menembus final Liga Europa. Pada semifinal, Sevilla mengalahkan Manchester United. (Ina Fassbender/POOL/AFP)